MY PROJECT
Makalah
Sejarah
“Sultan
Agung VS J.P.Coen”
Oleh :
Didik
Setyawan (07)
Rizal Taufiq
Hidayat (25)
Rizki Farhandika
Sobirin (26)
SMK N 2 SURAKARTA
Jl. LU.
Adisucipto No. 33 Telp. (0271) 714901
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR
DAFTAR
ISI
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
B.
Rumusan Masalah
C.
Tujuan Penelitian
D.
Sistematika
Bahasan
BAB IIPEMBAHASAN
A. Awal Perkembangan Kerajaan Mataram Islam
B.
Sistem Pemerintahan
C.
Kemajuan yang dicapai pada
masa pemerintahan Sultan Agung
D. Sultan Agung VS J.P.Coen
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan
B.
Saran-Saran
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Dalam
Pembuatan makalah ini didasari karena tugas dari guru kami mata pelajaran
sejarah Indonesia dan melaporkan hasil pembelajaran yang telah dilakukan oleh
kami.
B.
Tujuan Penulisan
1.
Untuk mengetahui alasan Sultan Agung melakukan perlawanan dengan
VOC.
2.
Untuk mengetahui bentuk perlawanan yang dilakukan Sultan Agung
terhadap VOC.
3.
Untuk mengetahui bagaimana dampak kekalahan dari perlawanan yang
dilakukan oleh Sultan Agung bagi dirinya dan rakyatnya.
C. Manfaat Penulisan
1. Menambah wawasan
kami mengenai sejarah perjuangan rakyat Indonesia melawan para penjajah.
2. Membuat kami
menjadi lebih memahami mengenai sejarah Sultan Agung VS J.P.Coen.
3. Sebagai Media
Pembelajaran.
D. Pembatasan Penulisan
Makalah
ini kami batasi hanya pada topic Sultan Agung VS J.P.Coen.
E. Sistematika Bahasan
Secara garis besar
sistematika pembahasan ini disusun untuk mempermudah pemahaman terhadap
penulisan ini, uraian bab demi bab bukan hanya rentetan dan ringkasan dari
keseluruhan penulisan, melainkan suatu deskripsi tentang hubungan antara pasal
demi pasal atau bab demi bab.
Untuk kejelasannya pembagian tiap bab yang terkandung dalam
penulisan ini akan di uraikan sebagai berikut.
BAB I :
Pendahuluan berisi tentang latar belakang masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, pembatasan
penulisan, dan sistematika bahasan.
BAB II : Pada bab
II ini menjelaskan tentang kondisi Kesultanan Mataram pada masa pemerintahan
Sultan Agung yang pada waktu itu banyak terjadi ekspansi wilayah. Selain itu
juga akan dijelaskan mengenai kebijakan-kebijakannya. Dan menjelaskan tentang latar belakang
perlawanan Sultan Agung terhadap VOC dan bentuk perlawanan Sultan yang
dilakukan kepada VOC / J.P Coen, dan juga akan disinggung sedikit tentang
kondisi Mataram atau dampak bagi rakyat Mataram dan bagi Sultan sendiri pasca
pemberontakannya dengan VOC.
BAB
III : Penutup,
pada bab yang terakhir berisi kesimpulan-kesimpulan pembahasan dari
awal hingga akhir..
BAB II
PEMBAHASAN
A. Awal perkembangan Kerajaan Mataram Islam
Kerajaan Mataram berdiri pada tahun 1582. Pusat Kerajaan ini terletak di
sebelah tenggara kota Yogyakarta, yakni di Kotagede. Para raja yang pernah
memerintah di Kerajaan Mataram yaitu : Penembahan Senopati (1584-1601),
Panembahan Seda Krapyak (1601-1677).
Dalam sejarah Islam,Kesultanan mataram memiliki peran yang cukup penting
dalam perjalanan secara kerajaan-kerajaan islam di Nusantara (Indonesia). Hal
ini terlihat dari semangat raja-raja untuk memperluas daerah kekuasaan dan
mengislamkan para penduduk daerah kekuasaannya, keterlibatan para pemuka agama,
hingga pengembangan kebudayaan yang bercorak islam di Jawa.
Pada awalnya daerah mataram dikuasai kesultanan pajang sebagai balas jasa
atas perjuangan dalam mengalahkan Arya Penangsang. Sultan Hadiwijaya
menghadiahkan daerah mataram kepada Ki Ageng Pemanahan. Selanjutnya, oleh ki
Ageng Pemanahan Mataram dibangun sebagai tempat permukiman baru dan persawahan.
Akan tetapi, kehadirannya di daerah ini dan usaha pembangunannya mendapat
berbagai jenis tanggapan dari para penguasa setempat. Misalnya, Ki Ageng Giring
yang berasal dari wangsa Kajoran secara terang-terangan menentang kehadirannya.
Begitu pula ki Ageng tembayat dan Ki Ageng Mangir. Namun masih ada yang
menerima kehadirannya, misalnya ki Ageng Karanglo. Meskipun demikian, tanggapan
dan sambutan yang beraneka itu tidak mengubah pendirian Ki Ageng Pemanahan
untuk melanjutkan pembangunan daerah itu. ia membangun pusat kekuatan di plered
dan menyiapkan strategi untuk menundukkan para penguasa yang menentang
kehadirannya.
Pada tahun 1575, Pemahanan meninggal dunia. Ia digantikan oleh putranya,
Danang Sutawijaya atau Pangeran Ngabehi Loring Pasar. Di samping bertekad
melanjutkan mimpi ayahandanya, ia pun bercita-cita membebaskan diri dari
kekuasaan pajang. Sehingga, hubungan antara mataram dengan pajang pun
memburuk.Hubungan yang tegang antara sutawijaya dan kesultanan Pajang akhirnya
menimbulkan peperangan. Dalam peperangan ini, kesultanan pajang mengalami
kekalahan. Setelah penguasa pajak yakni hadiwijaya meninggal dunia (1587),
Sutawijaya mengangkat dirinya menjadi raja Mataram dengan gelar penembahan
Senopati Ing Alaga. Ia mulai membangun kerajaannya dan memindahkan senopati
pusat pemerintahan ke Kotagede. Untuk memperluas daerah kekuasaanya, penembahan
senopati melancarkan serangan-serangan ke daerah sekitar. Misalnya dengan
menaklukkan Ki Ageng Mangir dan Ki Ageng Giring.
Pada tahun 1590, penembahan senopati atau biasa disebut dengan senopati
menguasai madiun, yang waktu itu bersekutu dengan surabaya. Pada tahun 1591 ia
mengalahkan kediri dan jipang, lalu melanjutkannya dengan penaklukkan Pasuruan
dan Tuban pada tahun 1598-1599.
Sebagai raja islam yang baru, panembahan senopati melaksanakan
penaklukkan-penaklukan itu untuk mewujudkan gagasannya bahwa mataram harus
menjadi pusat budaya dan agama islam, untuk menggantikan atau melanjutkan
kesultanan demak. Disebutkan pula dalam cerita babad bahwa cita-cita itu
berasal dari wangsit yang diterimanya dari Lipura (desa yang terletak di
sebelah barat daya Yogyakarta). Wangsit datang setelah mimpi dan pertemuan
senopati dengan penguasa laut selatan, Nyi Roro Kidul, ketika ia bersemedi di
Parangtritis dan Gua Langse di Selatan Yogyakarta. Dari pertemuan itu
disebutkan bahwa kelak ia akan menguasai seluruh tanah Jawa
B. Sistem Pemerintahan
Sistem pemerintahan yang dianut Kerajaan mataram islam adalah sistem
Dewa-Raja. Artinya pusat kekuasaan tertinggi dan mutlak adaa pada diri sultan.
Seorang sultan atau raja sering digambarkan memiliki sifat keramat, yang
kebijaksanaannya terpacar dari kejernihan air muka dan kewibawannya yang tiada
tara. Raja menampakkan diri pada rakyat sekali seminggu di alun-alun istana.
Selain sultan, pejabat penting lainnya adalah kaum priayi yang merupakan
penghubung antara raja dan rakyat. Selain itu ada pula panglima perang yang
bergelar Kusumadayu, serta perwira rendahan atau Yudanegara. Pejabat lainnya
adalah Sasranegara, pejabat administrasi.
Dengan sistem pemerintahan seperti itu, Panembahan senopati terus-menerus
memperkuat pengaruh mataram dalam berbagai bidang sampai ia meninggal pada
tahun 1601. ia digantikan oleh putranya, Mas Jolang atau Penembahan Sedaing
Krapyak (1601 – 1613). Peran mas Jolang tidak banyak yang menarik untuk
dicatat. Setelah mas jolang meninggal, ia digantikan oleh Mas Rangsang (1613 –
1645). Pada masa pemerintahannyalah Mataram mearik kejayaan. Baik dalam bidang
perluasan daerah kekuasaan, maupun agama dan kebudayaan.
Pangeran Jatmiko atau Mas Rangsang Menjadi raja mataram ketiga. Ia
mendapat nama gelar Agung Hanyakrakusuma selama masa kekuasaan, Agung
Hanyakrakusuma berhasil membawa Mataram ke puncak kejayaan dengan pusat
pemerintahan di Yogyakarta. Gelar “sultan” yang disandang oleh Sultan Agung
menunjukkan bahwa ia mempunyai kelebihan dari raja-raja sebelumnya, yaitu
panembahan Senopati dan Panembahan Seda Ing Krapyak. Ia dinobatkan sebagai raja
pada tahun 1613 pada umur sekitar 20 tahun, dengan gelar “Panembahan”. Pada
tahun 1624, gelar “Panembahan” diganti menjadi “Susuhunan” atau “Sunan”. Pada
tahun 1641, Agung Hanyakrakusuma menerima pengakuan dari Mekah sebagai sultan,
kemudian mengambil gelar selengkapnya Sultan Agung Hanyakrakusuma Senopati Ing
Alaga Ngabdurrahman.
Karena cita-cita Sultan Agung untuk memerintah seluruh pulau jawa,
kerajaan Mataram pun terlibat dalam perang yang berkepanjangan baik dengan
penguasa-penguasa daerah, maupun dengan kompeni VOC yang mengincar pulau Jawa.
Pada tahun 1614, sultan agung mempersatukan kediri, pasuruan, lumajang,
dan malang. Pada tahun 1615, kekuatan tentara mataram lebih difokuskan ke
daerah wirasaba, tempat yang sangat strategis untuk menghadapi jawa timur.
Daerah ini pun berhasil ditaklukkan. pada tahun 1616, terjadi pertempuran
antara tentara mataram dan tentara surabaya, pasuruan, Tuban, Jepara, wirasaba,
Arosbaya dan Sumenep. Peperangan ini dapat dimenangi oleh tentara mataram, dan
merupakan kunci kemenangan untuk masa selanjutnya. Di tahun yang sama Lasem
menyerah. Tahun 1619, tuban dan Pasuruan dapat dipersatukan. Selanjutnya
mataram berhadapan langsung dengan Surabaya. Untuk menghadapi surabaya, mataram
melakukan strategi mengepung, yaitu lebih dahulu menggempur daerah-daerah
pedalaman seperti Sukadana (1622) dan Madura (1624). Akhirnya, Surabaya dapat
dikuasai pada tahun 1625.
Dengan penaklukan-penaklukan tersebut, Mataram menjadi kerajaan yang
sangat kuat secara militer. Pada tahun, 1627, seluruh pulau jawa kecuali
kesultanan Banten dan wilayah kekuasaan kompeni VOC di Batavia ttelah berhasil
dipersatukan di bawah mataram. Sukses besar tersebut menumbuhkan kepercayaan
diri sultan agung untuk menantang kompeni yang masih bercongkol di Batavia.
Maka, pada tahun 1628, Mataram mempersiapkan pasukan di bawah pimpinan
Tumenggung Baureksa dan Tumenggung Sura Agul-agul, untuk mengempung Batavia.
Sayang sekali, karena kuatnya pertahanan Belanda, serangan ini gagal,
bahkan tumenggung Baureksa gugur. Kegagalan tersebut menyebabkan matara
bersemangat menyusun kekuatan yang lebih terlatih, dengan persiapan yang lebih
matang. Maka pada pada 1629, pasukan Sultan Agung kembali menyerbu Batavia.
Kali ini, ki ageng Juminah, Ki Ageng Purbaya, ki Ageng Puger adalah para
pimpinannya. Penyerbuan dilancarkan terhadap benteng Hollandia, Bommel, dan
weesp. Akan tetapi serangan ini kembali dapat dipatahkan, hingga menyebabkan pasukan
mataram ditarik mundur pada tahun itu juga. Selanjutnya, serangan mataram
diarahkan ke blambangan yang dapat diintegrasikan pada tahun 1639.
Bagi Sultan Agung, Kerajaan Mataram adalah kerajaan islam yang mengemban
amanat Tuhan di tanah Jawa. Oleh sebab itu, struktur serta jabatan kepenghuluan
dibangun dalam sistem kekuasaan kerajaan. Tradisi kekuasaan seperti sholat
jumat di masjid, grebeg ramadan, dan upaya pengamanalan syariat islam merupakan
bagian tak terpisahkan dari tatanan istana.
Sultan agung juga berprediksi sebagai pujangga. Karyanya yang terkenal
yaitu kitab Serat Sastra Gendhing. Adapun kitab serat Nitipraja digubahnya pada
tahun 1641 M. Serat sastra Gendhing berisi tetang budi pekerti luhur dan
keselarasan lahir batin. Serat Nitipraja berisi tata aturan moral, agar
tatanan masyarakat dan negara dapat menjadi harmonis. Selain menulis,
Sultan Agung juga memerintahkan para pujangga kraton untuk menulis sejarah
babad tanah Jawi.
Di antara semua karyanya , peran sultan agung yang lebih membawa pengaruh
luas adalah dalam penanggalan. Sultan agung memadukan tradisi pesantren islam
dengan tradisi kejawen dalam perhitungan tahun. Masyarakat pesantren biasa
menggunakan tahun hijriah, masyarakat kejawen menggunakan tahun Caka atau saka.
Pada tahun 1633, Sultan Agung berhasil menyusun dan mengumumkan berlakunya
sistem perhitungan tahun yang baru bagi seluruh mataram. Perhitungan itu hampir
seluruhnya disesuaikan dengan tahun hijriah, berdasarkan perhitungan bulan.
Namun, awal perhitungan tahun jawa ini tetap sama dengan tahun saka, yaitu 78
m. Kesatuan perhitungan tahun sangat penting bagi penulisan serat babad.
Perubahan perhitungan itu merupakan sumbangan yang sangat penting bagi
perkembangan proses pengislaman tradisi dan kebudayaan jawa yang sudah terjadi
sejak berdirinya kerajaan demak. Hingga saat ini, sistem penanggalan ala sultan
Agung ini masih banyak digunakan.
Sejak masa sebelum sultan Agung pembangunan non-militer memang telah
dilakukan. Satu yang layak disebut, panembahan Senopati menyempurnakan bentuk
wayang dengan tatanan gempuran. Setelah zaman senopati, mas jolang juga berjasa
dalam kebudayaan, dengan berusaha menyusun sejarah negeri demak, serta menulis
beberapa kitap suluk. Misalnya Sulu Wujil (1607 M) yang berisi wejangan
Sunan bonang kepada abdi raja majapahit yang bernama Wujil. Pangeran
Karanggayam juga menggubah Serat Nitisruti (1612 m) pada masa mas jolang.
Menjelang akhir hayatnya. Sultan Agung menerapkan peraturan yang
bertujuan mencegah perebutan tahta, antara keluarga raja dan putra mahkota. Di
bawah kepemimpinan Sultan Agung, Mataram tidak hanya menjadi pusat kekuasaan,
tapi juga menjadi pusat penyebaran islam.
C. Kemajuan yang dicapai pada masa pemerintahan Sultan
Agung
Kemajuan
yang dicapai meliputi kemajuan di bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya,
yaitu :
1. Bidang Politik
1. Bidang Politik
Kemajuan
politik yang dicapai Sultan Agung adalah menyatukan kerajaan-kerajaan Islam di
Jawa dan menyerang Belanda di Batavia.
a. Penyatuan
kerajaan-kerajaan Islam
Sultan
Agung berhasil menyatukan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa. Usaha inidimulai
dengan menguasai Gresik, Jaratan, Pamekasan, Sumenep, Sampang,Pasuruhan,
kemudian Surabaya. Salah satu usahanya mempersatukan kerajaan Islamdi Pulau
Jawa ini ada yang dilakukan dengan ikatan perkawinan. Sultan Agung mengambil
menantu Bupati Surabaya Pangeran Pekik dijodohkan dengan putrinya yaitu Ratu
Wandansari
b. Anti penjajah Belanda
Sultan
Agung adalah raja yang sangat benci terhadap penjajah Belanda. Hal ini terbukti
dengan dua kali menyerang Belanda ke Batavia, yaitu yang pertama tahun 1628 dan
yang kedua tahun 1629. Kedua penyerangan ini mengalami kegagalan.Adapun
penyebab kegagalannya, antara lain:
-
Jarak yang
terlalu jauh berakibat mengurangi ketahanan prajurit mataram. Mereka harus
menempuh jalan kaki selama satu bulan dengan medan yang sangat sulit.
-
Kekurangan
dukungan logistik menyebabkan pertahanan prajurit Mataram di Batavia menjadi
lemah.
-
Kalah
dalam sistem persenjataan dengan senjataa yang dimiliki kompeni Belanda yang
serba modern.
-
Banyak prajurit
Mataram yang terjangkit penyakit dan meninggal, sehingga semakin memperlemah kekuatan.
-
Portugis
bersedia membantu Mataram dengan menyerang Batavia lewat laut,sedangkan Mataram
lewat darat. Ternyata Portugis mengingkari. Akhirnya Mataram dalam menghadapai
Belanda tanpa bantuan Portugis.
-
Kesalahan
politik Sultan Agung yang tidak menadakan kerja sama dengan Banten dalam
menyerang Belanda. Waktu itu mereka saling bersaing.
-
Sistem
koordinasi yang kurang kompak antara angkatan laut dengan angkatan darat. Ternyata
angkatan laut mengadakan penyerangan lebih awal sehingga rencana penyerangan Mataram
ini diketahui Belanda.
-
Akibat
penghianatan oleh salah seorang pribumi, sehingga rencana penyerangan ini
diketahui Belanda sebelumnya.
2. Bidang Ekonomi
Kemajuan dalam bidang
ekonomi meliputi hal-hal berikut ini:
-
Sebagai
negara agraris, Mataram mampu meningkatkan produksi beras dengan memanfaatkan
beberapa sungai di Jawa sebagai irigasi. Mataram juga mengadakan pemindahan
penduduk (transmigrasi) dari daerah yang kering ke daerah yang subur dengan
irigasi yang baik. Dengan usaha tersebut, Mataram banyak mengekspor beras ke
Malaka.
-
Penyatuan
kerajaan-kerajaan Islam di pesisir Jawa tidak hanya menambah kekuatan
politik,tetapi juga kekuatan ekonomi. Dengan demikian ekonomi Mataram tidak
semata-mata tergantung ekonomi agraris, tetapi juga karena pelayaran dan
perdagangan.
3. Bidang sosial Budaya
Kemajuan dalam bidang sosial
budaya meliputi hal-hal berikut:
a.
Timbulnya
kebudayaan kejawen
Unsur ini merupakan akulturasi dan asimilasi antara kebudayaan asli Jawa
denganIslam. Misalnya upacara Grebeg yang semula merupakan pemujaan roh nenek
moyang. Kemudian, dilakukan dengan doa-doa agama Islam. Sampai kini, di jawa
kita kenal sebagai Grebeg Syawal, Grebeg Maulud dan sebagainya.
b.
Perhitungan
Tarikh Jawa
Sultan Agung berhasil menyusun tarikh Jawa. Sebelum tahun 1633 M, Mataram
menggunakan tarikh Hindu yang didasarkan peredaran matahari (tarikh
syamsiyah).Sejak tahun 1633 M (1555 Hindu), tarikh Hindu diubah ke tarikh Islam
berdasarkan peredaran bulan (tarikh komariah). Caranya, tahun 1555 diteruskan
tetapi dengan perhitungan baru berdasarkan tarikh komariah. Tahun perhitungan
Sultan Agung ini kemudian dikenal sebagai“tahun Jawa”.
c.
Berkembangnya
Kesusastraan Jawa
Pada zaman kejayaan Sultan Agung, ilmu pengetahuan dan seni berkembang
pesat,termasuk di dalamnya kesusastraan Jawa. Sultan Agung sendiri mengarang
kitab yang berjudul Sastra Gending yang merupakan kitab filsafat kehidupan dan
kenegaraan.Kitab-kitab yang lain adalah Nitisruti, Nitisastra, dan Astrabata.
Kitab-kitab ini berisi tentang ajaran-ajaran budi pekerti yang baik.Pengaruh
Mataram mulai memudar setelah Sultan Agung meninggal pada tahun 1645
M.Selanjutnya, Mataram pecah menjadi dua, sebagaimana isi Perjanjian Giyanti
(1755) berikut:
- Mataram Timur yang dikenal
Kesunanan Surakarta di bawah kekuasaan Paku Buwono III dengan pusat
pemerintahan di Surakarta.
- Mataram Barat yang dikenal
dengan Kesultanan Yogyakarta di bawah kekuasaan Mangkubumi yang bergelar Sultan
Hamengku Buwono I dengan pusat pemerintahannya di Yogyakarta.Perkembangan
berikutnya, Kesunanan Surakarta pecah menjadi dua yaitu Kesunanan dan
Mangkunegaran (Perjanjian Salatiga 1757). Kesultanan Yogyakarta juga terbagi
atas Kesultanan dan Paku Alaman. Perpecahan ini terjadi karena campur tangan
Belanda dalam usahanya memperlemah kekuatan Mataram, sehingga mudah untuk di
kuasai.Sultan Agung meninggal pada Februari 1646. ia dimakamkan di puncak Bukit
Imogiri, Bantul ,Yogyakarta. Selanjutnya,Mataram diperintah oleh putranya,
SunanTegalwangi, dengan gelar Amangkurat I ( 1646 – 1677). Dalam masa
pemerintahan Amangkurat I, kerajaan mataram mulai mundur. Wilayah kekuasaan
mataram berangsur-angsur menyempit karena direbut oleh kompeni VOC. Yang paling
mengenaskan, pada tahun1675, Rade Trunajaya dari Madura memberontak.
Pemberontakannya demikian tak terbendung, sampai-sampai Trunajaya berhasil
menguasai keraton Mataram yang waktu ituteletak di Plered. Amangkurat
terlunta-lunta mengungsi, dan akhirnya meninggal di Tegal.Sepeninggal
Amangkurat I, Mataram dipegang oleh Amangkurat II yang menurunkanDinasti Paku
Buwana di Solo dan Hamengku Buwana di Yogyakarta. Amangkurat II meminta bantuan
VOC untuk memadamkan pemberontakan Trunajaya. Setelah berakhirnya Perang
Giyanti (1755), wilayah kekuasaan mataram semakin terpecah belah. Berdasarkan
perjanjian giyanti, mataram dipecah menjadi dua, yakni mataram sukrakarta dan
mataram yogyakarta. Pada tahun 1757 dan 1813, perpecahan terjadi lagi dengan
munculnya Mangkunegara dan pakualaman. Di masa pemerintahan Hindia Belanda,
keempat pecahan kerajaan mataram ini disebut sebagai vorstenlanden. Saat ini,
keempat pecahan Kesultanan Mataram tersebut masih melanjutkan dinasti
masing-masing. Bahkan peran dan pengaruh pecahan mataram tersebut, terutama
kesultanan Yogyakarta masih cukup besar dan diakui masyarakat.
·
Aspek
Kehidupan Sosial
Kehidupan masyarakat di kerajaan Mataram, tertata dengan baik berdasarkan
hukum Islam tanpa meninggalkan norma-norma lama begitu saja. Dalam pemerintahan
Kerajaan Mataram Islam, Raja merupakan pemegang kekuasaan tertinggi, kemudian
diikuti oleh sejumlah pejabat kerajaan. Di bidang keagamaan terdapat penghulu,
khotib, naid, dan surantana yang bertugas memimpin upacara-upacara keagamaan.
Di bidang pengadilan,dalam istana terdapat jabatan jaksa yang bertugas
menjalankan pengadilan istana. Untuk menciptakan ketertiban di seluruh
kerajaan, diciptakan peraturan yang dinamakan anger-anger yang harus dipatuhi
oleh seluruh penduduk.
·
Aspek
Kehidupan Ekonomi dan Kebudayaan
Kerajaan Mataram adalah kelanjutan dari Kerajaan Demak dan Pajang.
Kerajaan ini menggantungkan kehidupan ekonominya dari sektor agraris. Hal ini
karena letaknya yang berada di pedalaman. Akan tetapi, Mataram juga memiliki
daerah kekuasan di daerah pesisir utara Jawa yang mayoritas sebagai pelaut.
Daerah pesisir inilah yang berperan penting bagi arus perdagangan Kerajaan
Mataram. Kebudayaan yang berkembang pesat pada masa Kerajaan Mataram berupa
seni tari, pahat, suara, dan sastra. Bentuk kebudayaan yang berkembang adalah
Upacara Kejawen yang merupakan akulturasi antara kebudayaan Hindu-Budha dengan
Islam. Di samping itu, perkembangan di bidang kesusastraan memunculkan karya
sastra yang cukup terkenal, yaitu Kitab Sastra Gending yang merupakan perpaduan
dari hukum Islam dengan adat istiadat Jawa yang disebut Hukum Surya Alam.E.
Puncak Kejayaan Mataram Islam Mataram Islam mencapai
puncak kejayaannya pada jaman Sultan Agung Hanyokrokusumo (1613-1646). Daerah
kekuasaannya mencakup Pulau Jawa (kecuali Banten dan Batavia), Pulau Madura,
dan daerah Sukadana di Kalimantan Barat. Pada waktu itu, Batavia dikuasai VOC
(Vereenigde Oost Indische Compagnie ) Belanda. Kekuatan
militer Mataram sangat besar. Sultan Agung yang sangat anti kolonialisme
itumenyerang VOC di Batavia sebanyak dua kali (1628 dan 1629). Menurut Moejanto
sepertiyang dikutip oleh Purwadi (2007), Sultan Agung memakai konsep politik
keagungbinataran yang berarti bahwa kerajaan Mataram harus berupa ketunggalan,
utuh, bulat, tidak tersaingi,dan tidak terbagi-bagi.
Kemunduran Mataram Islam Kemunduran Mataram Islam
berawal saat kekalahan Sultan Agung merebut Batavia dan menguasai seluruh Jawa
dari Belanda. Setelah kekalahan itu, kehidupan ekonomi rakyat tidak terurus
karena sebagian rakyat dikerahkan untuk berperang.
D. Sultan
Agung VS
J.P Coen
1. Sultan
agung adalah raja yang paling terkenal dari kerajaan mataram. Masa pemerintahan
Sultan Agung Mataram mencapai zaman keemasan.Cita-cita Sultan Agung antara
lain:
o Mempersatukan
seluruh tanah jawa
o Mengusir
kekuasaan asing dari bumi nusantara
2. Dengan
cita-citanya ini sultan agung sangat menentang kekuasaan VOC di jawa. Tindakan
VOC yang terus memaksa untuk melakukan monopoli perdagangan membuat para
pedagang Pribumi mengalami kemunduran. Kebijakan monopoli tersebut dapat
membawa penderitaan rakyat.Dengan penderitaan rakyat tersebut, Sultan Agung
merencanakan serangan ke Batavia.
Ada beberapa alasan mengapa Sultan
Agung merencanakan serangan ke batavia, yaitu :
1. Tindakan
monopoli yang dilakukan VOC
2. VOC
sering menghalang-halangi kapal-kapal dagang mataram yang akan berdagang ke
Malaka
3. VOC
menolak untuk mengakui kedaulatan Mataram
4. Keberadaan
VOC di batavia telah memberikan ancaman serius bagi masa depan pulau jawa
Ø Serbuan
pertama ke Batavia :
Pada tahun 1628 telah di persiapkan
pasukan dengan segenap persenjataan dan perbekalan. Pada waktu itu yang menjadi
gubernur jenderal VOC adalah J.P. COEN. Sebagai pemimpin pasukan mataram adalah
Tumenggung Baureksa. Tepat pada tanggal 22 Agustus 1628, pasukan mataramberada
dibawah pimpinan Tumenggung Baureksa menyerang batavia. Pasukan mataram
mendarat di madura dan mendirikan benteng pertahanan dari bambu. Akan tetapi
usaha ini diketahui oleh VOC yang kemudian membakar perkampungan di sekitar
benteng.
Dalam situasi seperti itu datang pasukan bantuan dari mataram yang di pimpin oleh Tumenggung Suro Agul-agul, Kiai Dipati Mandurarejo, dan Dipati Upasonto. Kemudian datang pula laskar orang sunda yang dipimpin oleh Dipati Ukur. Mereka berusaha membendung sungai Ciliwung agar benteng VOC kekurangan air dan terjangkit penyakit kolera. Strategi yang diterapkan Mataram belum mampu membuat VOC kalah. Kekuatan dan persenjataan VOC yang jauh lebih unggul menyebabkan pasukan mataram mundur. Dalam pertempuran ini mataram harus kehilangan Tumenggung Bahurekso. Selain kalah persenjataan mataram juga kalah stamina karena harus melakukan perjalanan jauh dari pusat Mataram di Yogyakarta hingga Batavia, meskipun mataram kalah Sultan agung tidak lantas menyerah.Dengan demikian serangan tentara sultan agung tahun 1628 itu belum berhasil.
Dalam situasi seperti itu datang pasukan bantuan dari mataram yang di pimpin oleh Tumenggung Suro Agul-agul, Kiai Dipati Mandurarejo, dan Dipati Upasonto. Kemudian datang pula laskar orang sunda yang dipimpin oleh Dipati Ukur. Mereka berusaha membendung sungai Ciliwung agar benteng VOC kekurangan air dan terjangkit penyakit kolera. Strategi yang diterapkan Mataram belum mampu membuat VOC kalah. Kekuatan dan persenjataan VOC yang jauh lebih unggul menyebabkan pasukan mataram mundur. Dalam pertempuran ini mataram harus kehilangan Tumenggung Bahurekso. Selain kalah persenjataan mataram juga kalah stamina karena harus melakukan perjalanan jauh dari pusat Mataram di Yogyakarta hingga Batavia, meskipun mataram kalah Sultan agung tidak lantas menyerah.Dengan demikian serangan tentara sultan agung tahun 1628 itu belum berhasil.
Ø Serbuan
kedua ke Batavia
Sultan Agung tidak lantas berhenti dengan kekalahan yang
baru saja dialami pasukannya. Sultan Agung menyusun strategi untuk kdembali
menyerang Batavia. Belajar dari kekalahan terdahulu Sultan Agung meningkatkan
jumlah kapal dan senjata, ia juga membangun lumbung-lumbung beras untuk persediaan
bahan makanan seperti di Tegal dan Cirebon. Serangan kedua pasukan mataram
terhadap VOC terjadi pada tahun 1629. Di bawah pimpinan Dipati Puger dan Dipati Purbaya, 80.000 pasukan mataram
berhasil sampai didepan gerbang batavia.
Saat itu pasukan mataram telah melengkapi diri dengan senjata api dan meriam.
Dalam
serangan ini pasukan Mataram berhasil menghancurkan benteng Hollandia dan
mengancam menerobos masuk ke batavia. Tetapi serangan mereka terhenti oleh
pertahanan pasukan voc. Gubernur jenderal J.P. COEN mengirim kapal perang ke
tegal dan cirebon untuk membakar lumbung padi pasukan mataram. Peristiwa ini
menyebabkan pasukan mataram yang bertempur di batavia kekurangan bahan
makanana. Setelah kelelahan dan kekurangan makanan pasukan mataram memutuskan mundur.VOC
menganggap mataram merupakan salah satu kerajaan yang menjadi ancaman besar
bagi kekuasaannya. Oleh karena itu VOC selalu mengawasi gerak-gerik mataram.
BAB
III
PENUTUP
KESIMPULAN
Sejak Sepeninggalan Sultan Agung
VOC berhasil melemahkan Mataram. Raja Amangkurat 1 yang menggantikan
sultan agung justru melakukan kerja sama dengan VOC. Mataram yang awalnya
menjadi ancaman sekarang justru menjadi tergantung pada VOC. Kondisi ini
menyebabkan timbulnya perlawanan di Mataram, Salah satunya dipimpin oleh
Trunojoyo.Selanjutnya mataram berada di bawah pengaruh VOC.
DAFTAR
PUSTAKA


Komentar
Posting Komentar